Selamat Datang Papua!

Menjadi sebuah kesempatan yang menarik saat diajak bekerja di luar Pulau Jawa. Apalagi ketika saya tahu akan pergi ke Indonesia Timur tepatnya Papua, akhirnya impian saya tercapai juga.

Banyak orang mengeluh soal biaya perjalanan menuju Papua yang bisa dikatakan paling mahal di seluruh Indonesia. Saat itu, saya tidak sepaham dengan pendapat tersebut, karna saya bisa mengunjungi kota dan distrik-distrik di Papua tanpa biaya (gratis dibayarin kantor). Meskipun dalam rangka bekerja, saya bersama beberapa teman sebisa mngkin menyempatkan diri untuk melihat keindahan Papua baik danau, laut, pantai mapun gunung yang sebagian besar masih terjaga dengan baik.

Pantai Pasir II, Base G, Jayapura
Pantai Pasir II, Base G, Jayapura

Selama 3,5 bulan, saya lompat dari satu kota ke kota lain dengan jadwal berpindah tiap 2 minggu sekali. Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Jayapura – Biak – Manokwari – Sorong – Fakfak – Timika – Merauke. Hampir sebagian besar perjalanan ditempuh dengan transportasi laut. Selain biayanya lebih murah, banyaknya jumlah perrlengkapan harus kami bawa dari satu kota ke kota lain, menjadi pertimbangan penting juga. Durasi perjalanan dengan kapal juga bervariasi yaitu 1-2 malam. Asyiknya perjalanan dengan kapal adalah, kita bisa berinteraksi dengan orang-orang baru dan menikmati aroma laut saat sunrise atau sunset. Saya sekaligus bernostalgia, bisa kembali melewati malam yang singkat di kapal. Untungnya perjalanan laut ini tidak lebih dari 2 malam, seperti perjalanan saya tahun 2000 dengan rute Jakarta – Ternate selama 5 hari. hehehe

Banyak teman-teman saya bertanya dan bahkan mungkin masih ada sebagian besar masyarakat yang tinggal di luar Papua, menilai Papua sebagai pulau primitif dan menyeramkan secara keseluruhan. Kenyataannya, pemikiran itu harusnya ditinggalkan jauh-jauh dan lebih mengenal Papua sesuai dengan keberadaan zaman. Sekarang, Papua perlahan berkembang. Pusat perbelanjaan seperti Mall dan supermarket sudah hadir di beberapa kota. Secara umum, bisnis di perkotaan dikembangkan oleh masyarakat pendatang dari Jawa dan Makasar. Mereka berdagang makanan, pakaian dan kebutuhan sehari-hari lainnya mulai dari kios-kios sederhana atau ruko-ruko. Meksipun begitu, perkembangan yang pesat di perkotaan tidak meninggalkan kekerabatan masyarakat Papua dengan adat dan alamnya. Pada akhirnya, saya pun perlahan beradaptasi dan belajar mengerti keadaan sosial dan budaya masyarakat di masing-masing daerah yang saya kunjungi di Papua.

Sekejap, saya hilang dari peradaban ibukota Jakarta. Dan Selamat Datang Papua!

Sepenggal 2013

Lahirnya tahun yang baru menghantarkan saya menuju ke desa-desa di Takengon, Aceh Tengah. Takengon lebih cepat ditempuh dari Medan dibanding dari Sabang. Perjalanan dari Jakarta – Medan dengan pesawat kemudian dilanjutkan dengan bis selama kurang lebih 9 jam. Selama 1 minggu berdiam di kota ini, mengelilingi beberapa desa yang masuk dalam wilayah kerja saya. Pergi ke gudang kopi. Melihat hamparan kebun kopi arabika dan ulat-ulat besar menempel di batang pohon kopi. Biji kopi yang dijemur di depan-depan rumah dan jalanan. Menikmati rasa kopi dengan masing-masing anggota keluarganya. Rasanya pun menutup bulan Januari itu.

Lompat ke bulan-bulan berikutnya. Pikiran dan tubuh ini menyusuri pulau di timur Indonesia. Papua. Mungkin ini menjadi pengalaman yang sangat jarang dinikmati banyak orang. Meski sambil bekerja, saya keliling Papua selama 3,5 bulan. Dari kabupaten ke kabupaten. Desa ke desa. Berjumpa dengan alam, masyarakat dan pemikiran-pemikiran sederhana yang menarik perhatian. Dari Jayapura, Sentani, Biak, Manokwari, Sorong, Fakfak, Timika, berakhir di Merauke. Sebagian besar perjalanan ditempuh dengan kapal Pelni. Nikmatnya senja, bau laut, bermalam dan menunggu pagi di kapal laut. Sepertinya kesabaran adalah kunci perlawanan. Melawan keegoisan dan persungutan. Juli – Oktober 2013 selesai.

Kembali ke pangkuan ibu kota Jakarta. Sebulan kemudian, November 2013. Terbang ke Bangkok, untuk kedua kalinya, namun dengan misi berbeda. Yang pertama lebih komersil. Yang kedua ini cenderung sosial. Kota ya kota. Hanya kepraktisan yang belum saya temukan di kota Jakarta. Dibanding Bangkok, saya belajar bahwa semua orang berusaha menertibkan dirinya sendiri dimulai dari fasilitas yang disediakan pemerintah. Mendidik, terpelajar dan patuh. Gambaran kota Bangkok sebagai melting pot, wujud kosmopolitan, konsumerisme, hedonisme, namun tetap religius dan nasionalis. Seminggu saja menjajah kota ini. Saya lebih cinta Indonesia.

Merenungi perjalanan 2013, Bali menjadi pelabuhan terakhir saya. Bergerak dari Denpasar, Kuta, Negara, Singaraja, Bedugul, Bangli, Kintamani, Gianyar, Ubud, Sanur, Canggu, sampai Karangasem. Hanya 1 minggu. Tak cukup mengerti semua kisah Bali. Yang bisa dirasakan yaitu aman, nyaman, ramah, dan cuek. Ketika kaki melangkah, rasanya tak ada kecurigaan di antara sesama.  Walau alam sudah terkuras. Sawah, hutan dan laut telah disulap menjadi mimpi-mimpi para pemuja harta. Bali tetap tersenyum menerima kedatanganku, dan kamu. Asalkan saja kita bisa mengerti dirinya.

Takengon, Papua, Bangkok, Bali akan ditulis lebih jauh lagi. Sampai nanti.

ANAK DOMBA SABAT

KEBENARAN AKAN TETAP MENJADI KEBENARAN WALAU HANYA SATU ORANG YANG MEMPERCAYAINYA. KETIDAK-BENARAN AKAN TETAP MENJADI KETIDAK-BENARAN WALAU SELURUH DUNIA MEMPERCAYAINYA

Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

a madeandi's life

something good doesn't have to look difficult

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

ayo bercanda

joking seriously.